Sentimen
Undefined (0%)
29 Agu 2025 : 13.50
Informasi Tambahan

Grup Musik: APRIL

Kab/Kota: Semarang, Solo

Seabad Ki Narto Sabdo

29 Agu 2025 : 13.50 Views 1

Espos.id Espos.id Jenis Media: Kolom

Seabad Ki Narto Sabdo

Pada 25 Agustus 2025, dunia seni Jawa memperingati satu abad kelahiran Ki Narto Sabdo (1925-1985), sang maestro dan figur transformatif dalam dunia karawitan. 

Menurut Waridi (2005), ia salah satu dari tiga pilar utama karawitan pascakemerdekaan, khususnya pada periode 1950-an hingga 1970-an [setelah Ki Martopengrawit dan Ki Tjokrowasito], yang tidak dapat dilepaskan dari orientasi artistik yang nyleneh. 

Ki Martopengrawit berfokus pada pelestarian dan teoretisasi garap klasik keraton. Ki Tjokrowasito pelopor pembaruan artistik. Ki Narto Sabdo menjadi komunikator dan populisator. 

Ia secara sadar "membumikan" gending-gending kepada khalayak umum, secara produktif menambah perbendaharaan repertoar dengan corak yang lebih ciamik dan mudah diakses. Lebih penting lagi: laris manis. 

Pendekatan estetika Ki Narto Sabdo terbentuk secara signifikan oleh latar belakang kehidupan. Pengalaman panjang sebagai pengrawit dalam berbagai kelompok pertunjukan tobong sejak 1936, seperti Wayang Orang Sri Cahyamulya dan Ketoprak Langen Wanodya, memberi pemahaman komprehensif mengenai selera dan apresiasi masyarakat di luar kungkungan istana. 

Interaksi intens dengan audiens berbagai kalangan membentuk kepekaan dalam menciptakan karya-karya yang komunikatif bagi publik. 

Puncaknya adalah ketika ia bergabung dengan Wayang Orang Ngesti Pandawa pada November 1945. Ia kemudian dipercaya menjadi pemimpin karawitan.

Ki Narto Sabdo mendirikan perkumpulan karawitan Condhong Raos pada 1 April 1969 di Semarang sebagai wadah merealisasikan gagasan musikal.

Kelompok ini berfungsi sebagai laboratorium sekaligus medium utama eksplorasi musikal kreatif, menyajikan interpretasi baru atas repertoar yang ada, serta memperkenalkan komposisi-komposisi orisinal. 

Melalui Condhong Raos yang didukung pengrawit-pengrawit unggulan dari berbagai daerah, ia membangun identitas garap segar yang oleh masyarakat kemudian dikenal sebagai "gaya Condhong Raosan".

Salah satu metode kekaryaan yang menonjol adalah membongkar atau reinterpretasi bentuk-bentuk gending yang telah mapan. Pada struktur ladrang, ia menciptakan versi baru seperti Pangkur Gala-Gala atau Pangkur Padhang Bulan dari repertoar Ladrang Pangkur, sekaligus mengolah kembali garap vokal.

Ia menyusun aransemen vokal bersama pada bagian irama tanggung yang secara tradisi jarang ada.  Hal itu menjadikan nuansa gending lebih dinamis. Ia juga memberikan perhatian khusus pada struktur ketawang. 

Aspek vokal pada bentuk ini ia kembangkan sehingga melahirkan variasi-variasi interpretasi baru. Pengembangan ini bergerak ke arah penciptaan langgam, seperti pada karya Ketawang Melati Rinonce. 

Karya ini secara musikal sebenarnya merupakan interpretasi karawitan dari lagu keroncong populer Rangkaian Melati. Laku kerja yang demikian menarasikan kemampuan melakukan fusi antara idiom karawitan dengan genre musik populer lainnya.  

Selain mengolah repertoar klasik, Ki Narto Sabdo merevitalisasi lagu-lagu dolanan anak. Tembang-tembang seperti Sluku-Sluku Bathok dan E Dhayohe Teka, yang semula berfungsi hanya dalam konteks permainan anak-anak, diaransemen ulang menjadi sajian karawitan utuh. 

Dengan melodi yang dikembangkan dan teks yang diinterpretasi ulang, lagu-lagu tersebut dapat dinikmati dalam konteks pertunjukan karawitan untuk audiens dewasa.  Produktivitasnya sangat tinggi, khususnya dalam struktur lancaran. 

Ia menciptakan komposisi serta memperkenalkan garap dangdutan pada sekitar tahun 1970-an sebagai respons terhadap popularitas musik dangdut. 

Inovasi pada gending, katakanlah Aja Dipleroki, menjelaskan kemampuan menyerap pengaruh genre musik populer pada masanya dan mengolah ke dalam medium gamelan beraroma anyar.

Reflektif

Kiprah Ki Narto Sabdo di dunia pedalangan juga patut dipertimbangkan. Sebagai dalang, ia sering memasukkan gending-gending karyanya sendiri ke dalam berbagai jejeran dan adegan. 

Ia menciptakan sulukan (vokal dalang) dengan melodi yang mudah diingat dan lirik reflektif terhadap kehidupan sehari-hari. Gaya mendalang lebih santai dan komunikatif.

Ia memilih keberpihakan pada penonton daripada mempertahankan formalitas pakeliran tradisi yang kaku. Dihujat tentu saja, namun bukankah karya besar senantiasa lahir dari cibiran dan penolakan? 

Justru dari sanalah lahir dialektika kreatif yang mengukuhkan karya-karyanya sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas pada masanya.

Pengaruh Ki Narto Sabdo terhadap dunia karawitan Jawa modern dapat dilacak pada banyak kelompok gamelan di luar istana hingga saat ini. 

Gaya Condhong Raosan, dengan ciri vokal bersama yang kompak dan penekanan pada melodi pokok, banyak diadopsi oleh grup-grup di sekolah, kampus, maupun komunitas gamelan. 

Gending-gending ciptaannya menjadi materi standar latihan dan pertunjukan. Ia berhasil memperkaya dunia karawitan dengan karya-karya yang memiliki daya sebaring dengan zamannya. 

Dengan kata lain, Ki Narto Sabdo memiliki kecerdasan menangkap gelombang budaya populer kala itu dan mentransformasikan menjadi bahasa musikal gamelan yang eksentrik.

Semangat eksperimentatif bersama Condhong Raos mirip dengan praktik kolaborasi lintas genre yang marak saat ini. Ia membuktikan sebuah kelompok kesenian dapat berfungsi sebagai ruang riset artistik yang aktif. 

Model semacam ini idealnya dapat menginspirasi kelompok-kelompok seni muda untuk menjadi lebih daripada sekadar pelaksana repertoar (penjaga tradisi), tetapi juga sebagai laboratorium yang menghasilkan warna dan bentuk-bentuk baru yang lebih segar dan menarik. 

Keputusan Ki Narto Sabdo memopulerkan dan memperbarui gending-gending tradisi dapat dilihat sebagai sebuah strategi visioner. Pada era digital sekarang, ketika perhatian publik sangat terfragmentasi, metode "pembumian" menjadi sangat penting. 

Upaya menjadikan karawitan lebih mudah dicerna tanpa kehilangan esensi artisti dapat diolah sebagai inspirasi bagi generasi muthakir untuk membuat konten-konten tradisi yang menggigit bagi algoritma media sosial.

Peringatan seabad Ki Narto Sabdo tentu tak hendak semata-mata mengenang jasanya yang telah lampau, melainkan lebih tentang merayakan warisan metodologi kreatif yang masih sangat relevan hingga kini. 

Visi menjadikan karawitan sebagai seni hidup yang berinteraksi dengan zaman, melampaui artefak yang dikurasi di ruang elite, adalah pesan abadi yang patut diteruskan. 

Dalam konteks kekinian, batas antara genre musik semakin kabur dan selera audiens terus berubah. Pendekatan Ki Narto Sabdo yang luwes dan berani bereksperimen menjadi semacam kompas. 

Ia mengajarkan bahwa kesetiaan pada tradisi bukan berarti menolak perubahan, tetapi justru merespons dengan kreativitas,sehingga tradisi tetap bernapas dan berarti bagi masyarakat.

Warisan terbesar Ki Narto Sabdo tentu bukan pada koleksi gending-gending yang jumlahnya ratusan itu, melainkan pada keberanian membongkar dikotomi "tinggi-rendah" dalam berkesenian. 

Ia membuktikan kompleksitas artistik dan daya tarik populer bukanlah dua kutub yang bertolak belakang, melainkan dapat disinergikan untuk melahirkan bentuk-bentuk ekspresi baru dan powerful. 

Semangatnya mengajak kita tak takut menjadikan gamelan sebagai bahasa yang mampu berdialog dengan segala macam pengaruh. Melihat geliat berbagai komunitas karawitan kini, katakanlah dalam model campur sari dan klenengan gamelan di kampung-kampung, dapat dikatakan jiwa "Condhong Raosan" masih menyala. 

Ki Narto Sabdo telah meletakkan fondasi yang kuat, kini adalah tugas generasi selanjutnya terus berinovasi, menjawab tantangan zaman dengan visi yang sama visionernya. Semoga.

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 28 Agustus 2025. Penulis adalah etnomusikolog dan pengajar di ISI Solo)

Sentimen: neutral (0%)