Pemkab Sukoharjo akan Integrasikan Layanan Digital Tiap OPD dalam Super App
Espos.id
Jenis Media: Solopos

Esposin, SUKOHARJO–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo akan mengintegrasikan layanan digital tiap organisasi perangkat daerah (OPD) dalam Super App atau aplikasi super tunggal. Hal ini dilakukan untuk mempercepat transformasi digital dan mempermudah akses layanan bagi masyarakat.
“Kami juga baru saja menyelesaikan pembuatan roadmap tahapan transformasi digital untuk implementasi sistem Single Sign On [SSO]. Setelah itu kami juga akan berkolaborasi dengan semua OPD terkait layanan digital yang harus terintegrasi dalam Super App,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sukoharjo, Suyamto saat diwawancarai Espos, Rabu (27/8/2025).
Super App adalah aplikasi tunggal yang mengintegrasikan berbagai layanan dan fitur yang berbeda dalam satu platform. Hal ini memunginkan pengguna untuk melakukan berbagai aktivitas seperti pembayaran, pengurusan perizinan, pengurusan dokumen dan lain-lain tanpa perlu beralih antar aplikasi yang terpisah.
Menurut Suyamto langkah itu merupakan upaya Pemkab Sukoharjo untuk terus beradaptasi dengan transformasi digital yang terus bergerak dengan cepat. Ditambah pada tahun 2026, sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) yang disusun Kementerian PAN RB akan bertransformasi menjadi pemerintahan digital atau digital government.
“Roadmap SPBE dari Kementerian PAN RB itu selesai di 2025, saat ini sedang kita tunggu transformasinya menjadi pemerintahan digital. Nanti implikasinya ke skoring dan cakupan penilaiannya berbeda, dari 47 indikator kembali menjadi 27 indikator,” terang dia.
Suyamto menambahkan implementasi pemerintahan berbasis elektronik atau digitalisasi layanan publik di Kabupaten Sukoharjo sudah cukup baik. Terbukti pada penilaian SPBE 2024, Kabupaten Jamu ini menjadi yang terbaik di Jawa Tengah dengan skor 4,45 dan terbaik ketiga di tingkat nasional.
Dari empat, domain penilaian dalam evaluasi SPBE, aspek manajemen risiko masih perlu ditingkatkan karena hanya mendapatkan skor 3.45. “Manajemen risiko memang menjadi tantangan tersendiri karena risiko digitalisasi itu bergerak cepat sekali belum lagi teori-teori yang melandasinya juga banyak. Makanya kemarin kami belum optimal,” beber dia.
Sentimen: neutral (0%)