Sentimen
Informasi Tambahan
Kab/Kota: Gunung, Solo
Mahasiswa Akper Patria Husada Solo Dapat Bekal Literasi Digital
Espos.id
Jenis Media: News

Esposin, SOLO — Sejumlah mahasiswa Akademi Keperawatan (Akper) Patria Husada Solo mengikuti workshop bertajuk Digital Literacy for Nursing di kampus setempat yang berlokasi di Jl Gunung Slamet, Mojosongo, Jebres, Kota Solo, pada Rabu-Kamis (30-31/7/2025).
Ketua Yayasan Patria Medica, Muljadi Hartono, mengatakan pelatihan ini diadakan untuk mempersiapkan calon perawat menghadapi tantangan era digital, terutama terkait kewajiban penerapan Rekam Medis Elektronik (EMR) di seluruh fasilitas kesehatan.
Ia mengatakan acara ini merupakan hasil kerja sama dengan Himpunan Perawat Informatika Indonesia (HPII). Tujuannya untuk memberikan pemahaman mendalam kepada mahasiswa mengenai peran vital teknologi digital dalam dunia kesehatan.
"Mulai 2025, semua pelayanan kesehatan, baik rumah sakit maupun klinik pribadi, wajib menerapkan EMR. Teknologi ini perlu dicermati betul, bukan hanya soal pemahaman teknis, namun juga sisi keamanan data pasien yang perlu dijaga ketat," ujar Muljadi kepada Espos, belum lama ini.
Ia menjelaskan kebijakan Kementerian Kesehatan yang berlaku sejak akhir 2024 menuntut semua institusi kesehatan untuk beralih ke catatan medis elektronik yang terintegrasi dalam platform Satu Sehat. Proses transisi ini menuntut para tenaga kesehatan, termasuk perawat, untuk memiliki keterampilan baru.
"Pengisian rekam medis elektronik itu perlu belajar, karena prosesnya berbeda dengan manual. Pembekalan ini diharapkan agar mahasiswa paham seperti apa EMR itu, apa yang harus dilakukan, dan yang terpenting, memastikan data yang dimasukkan tepat dan aman," jelasnya.
Muljadi menyoroti risiko keamanan data sebagai salah satu tantangan terbesar dalam implementasi EMR. Menurutnya, data pasien bersifat sangat rahasia dan rentan disalahgunakan jika tidak dilindungi dengan baik.
"Kita tidak boleh main-main dengan data pasien. Bayangkan jika ada penyakit yang dianggap tabu atau memalukan bagi pasien, seperti HIV, TBC, atau kanker, lalu datanya bocor ke publik. Ini bisa menimbulkan masalah," tegasnya.
Berbeda dengan rekam medis manual yang relatif aman selama tersimpan rapi di lemari, data elektronik lebih rentan diakses oleh pihak tidak bertanggung jawab melalui peretasan atau penyalahgunaan internal.
"Kalau elektronik, siapa pun bisa mengakses. Ada risiko peretasan dari luar, belum lagi jika ada oknum yang memfoto data dengan ponsel. Ini sangat riskan," tambahnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, workshop ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis mahasiswa, tetapi juga untuk membekali mereka dengan pemahaman hukum dan etika.
Ia berharap para calon perawat ini dapat terhindar dari potensi tuntutan hukum di masa depan akibat kesalahan penanganan data. "Tuntutan itu bukan hanya soal salah penanganan medis, tapi juga bisa karena kebocoran data pasien. Ini yang perlu kami antisipasi," kata Muljadi.
Sentimen: neutral (0%)