Sentimen
Undefined (0%)
3 Des 2025 : 09.08
Informasi Tambahan

Institusi: IPB

Kab/Kota: Karanganyar, Wonosobo

Kasus: pengangguran

Tokoh Terkait

Asa Pemprov Jateng Tingkatkan Kemandirian Desa

3 Des 2025 : 09.08 Views 7

Espos.id Espos.id Jenis Media: Kolom

Asa Pemprov Jateng Tingkatkan Kemandirian Desa

Paradigma pembangunan Indonesia hari ini telah bergeser dari Jawa sentris menjadi Indonesia sentris, di mana desa diletakkan sebagai subjek utama ekonomi, bukan sekadar objek bantuan sosial. Namun, di lapangan, kita melihat ironi. Ribuan papan nama "Desa Digital" atau "Desa Wisata" berdiri tegak, tetapi dampak ekonominya sering kali layu sebelum berkembang. Banyak desa yang merasa sudah "digital" hanya karena memiliki akun media sosial atau situs web profil desa yang jarang diperbarui.

Padahal, digitalisasi yang sejati bukanlah sekadar memindahkan keriuhan pasar ke media sosial. Digitalisasi adalah tentang presisi data dan manajemen rantai pasok. Untuk mewujudkan desa yang benar-benar berdaya, kita memerlukan dua terobosan fundamental: integrasi data ekonomi desa yang presisi dan penciptaan "Kreator Desa" sebagai ujung tombak pemasaran yang profesional.

Masalah klasik ekonomi pedesaan adalah ketidakpastian suplai dan permintaan, di mana petani membuang hasil panen saat harga anjlok, sementara pasar kota kekurangan stok. Fenomena ini bukan sekadar nasib buruk, melainkan dampak dari apa yang disebut oleh Sofyan Sjaf dkk. (2022) dalam jurnal MethodsX sebagai "pembangunan semu" (pseudo-development) , sebuah kondisi di mana kebijakan gagal mencapai sasaran karena basis data yang tidak akurat (hanya berupa agregat/estimasi). Sayangnya, banyak program digitalisasi desa masih terjebak di kulit luar. Meskipun studi Afrianto dkk. (2022) di Desa Ciwaruga dan Cigugur Girang menunjukkan pelatihan digital mampu meningkatkan pemahaman warga hingga 89%, capaian ini hanya bersifat administratif jika tidak menyentuh akar persoalan ekonomi. Tanpa pembenahan data produksi yang fundamental, digitalisasi hanyalah kosmetik belaka.

Kita memerlukan pergeseran paradigma menuju "Data Desa Presisi" (DDP), sebuah metode yang digagas oleh tim peneliti IPB University untuk mensintesiskan sensus partisipatif dengan teknologi spasial (drone). Sjaf (2020) dalam Policy Brief-nya menegaskan bahwa akurasi data hingga level by name, by address, dan by coordinate adalah kunci untuk memotret kondisi aktual warga dan potensi desa secara utuh. Jika desa memiliki dasbor data presisi ini secara real-time, rantai pasok menjadi transparan sehingga spekulasi harga oleh tengkulak dapat dipangkas. Kepastian data inilah yang sesungguhnya dibutuhkan untuk menarik investor masuk ke desa, sekaligus memastikan pembangunan ekonomi berjalan tepat sasaran.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai Agregator Digital

Di sinilah peran vital Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) diuji. Lembaga yang kerap dipandang sebelah mata sebagai entitas "kuno" ini, sejatinya memegang posisi strategis sebagai agregator rantai pasok (supply chain) dalam ekosistem digital. Petani atau pengrajin individu sering kali terlalu kecil dan rentan untuk menghadapi pasar global yang menuntut konsistensi kualitas dan kuantitas. Riset Christyana dan Mutmainah (2023) terhadap BUMDes Neo Trisabunda di Wonosobo membuktikan bahwa ketika BUMDes mengambil peran aktif sebagai wadah pemasaran terpadu, produk UMKM lokal yang tadinya terbatas di desa mampu menembus pasar luar daerah hingga mancanegara. Hal ini mengonfirmasi bahwa hambatan skala ekonomi yang dihadapi petani individu dapat diatasi jika BUMDes berfungsi sebagai "pintu gerbang" yang mengonsolidasikan kekuatan produksi desa.

BUMDes harus bertransformasi menjadi "Hub Data" sekaligus "Hub Logistik" yang canggih. Tugas utama mereka bergeser dari sekadar berdagang menjadi kurator kualitas (quality control) dan manajer data stok dalam sistem terintegrasi. Studi Wulandari dan Lestari (2024) pada BUMDes Kartika Lestari di Buleleng menunjukkan bahwa transformasi tata kelola menuju digitalisasi sejak 2019 terbukti ampuh meminimalkan kecurangan (fraud), mengurangi kesalahan manusia (human error), serta menjamin validitas data yang tidak mungkin dicapai lewat pencatatan manual. Sejalan dengan itu, Kusmantini dkk. (2025) menekankan bahwa teknologi informasi yang menyajikan data aliran keuangan dan barang secara real-time adalah kunci bagi BUMDes untuk merespons fluktuasi pasar dan menjaga stabilitas rantai pasok .

Dengan model ini, pasar digital tidak lagi berhadapan dengan ribuan petani secara acak, melainkan berhadapan dengan satu entitas BUMDes yang profesional dan terdata. Penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, kewajaran, dan independensi menjadi syarat mutlak modernisasi ini. Sebagaimana ditegaskan oleh Wulandari dan Lestari (2024), kepatuhan pada prinsip GCG menjadikan pengelolaan aset desa lebih profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Inilah wajah asli ekonomi gotong royong modern: sebuah korporasi desa yang tidak hanya mengejar profit untuk Pendapatan Asli Desa (PADes) dan menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga bertindak sebagai perisai yang melindungi pelaku usaha kecil dari ketidakpastian pasar global.

Terakhir, data yang presisi dan produk yang terkurasi membutuhkan narasi yang kuat untuk sampai ke pasar. Ironisnya, di tengah gembar-gembor Bonus Demografi, desa kita justru ditinggalkan oleh anak mudanya yang memilih urbanisasi karena minimnya persepsi tentang "pekerjaan bergengsi" di kampung halaman. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Pemuda Indonesia 2023 mengonfirmasi kecemasan ini: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda masih menjadi tantangan serius, mencapai angka 13,41% pada tahun 2023. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahwa model ekonomi desa yang lama gagal menyerap aspirasi generasi baru.

Kita perlu menggeser definisi "petani" atau "pegawai desa" secara radikal. Anak muda desa harus dilatih menjadi "Kreator Desa" atau Digital Marketer profesional. Ini bukan sekadar melatih mereka berjoget di TikTok, tetapi membekali mereka dengan hard skill: fotografi katalog, copywriting, manajemen live shopping, hingga analisis algoritma pasar. Kompetensi ini menjadi kunci untuk mengemas narasi lokal menjadi daya tarik global. Secara konkret, digitalisasi terbukti ampuh mengamplifikasi beragam potensi desa mulai dari aspek ekonomi, kekayaan budaya, hingga destinasi wisata sebagaimana sukses diterapkan oleh Bumdesma Windulanang dalam mempromosikan paket wisata Wetan Bengawan Trip, Riset Aliyah dkk. (2025) di Desa Sumber Marga menunjukkan bahwa pelatihan digital marketing yang terstruktur mencakup pembuatan konten kreatif dan pengelolaan marketplace terbukti efektif meningkatkan kompetensi pemuda sekaligus mendongkrak penjualan UMKM lokal yang sebelumnya stagnan. Ketika pemuda diberdayakan sebagai agen perubahan digital, mereka tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menghidupkan ekosistem ekonomi desa.

Peluang ini didukung oleh momentum pasar yang luar biasa. Laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan ekonomi digital Indonesia mencapai angka fantastis dengan Gross Merchandise Value (GMV) sekitar USD 90 Miliar pada 2024. Yang lebih menarik, laporan tersebut menyoroti ledakan video commerce yang kini menyumbang 20% dari total aktivitas e-commerce. Kue ekonomi raksasa ini tidak boleh hanya dinikmati oleh perkotaan. Dengan kemampuan digital yang mumpuni, pemuda desa kini memiliki privilese baru: mereka bisa tinggal di desa, menghirup udara segar, dan merawat budaya, namun tetap mendapatkan penghasilan global dengan memasarkan narasi dan produk desanya ke seluruh dunia.

Upaya Jateng Tingkatkan Kemandirian Desa

Pemprov Jawa Tengah nampaknya ingin menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong kemajuan desa melalui berbagai program yang diharapkan dapat menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Berbagai program yang termasuk 11 prioritas salah satunya pembangunan Lumbung Kesejahteraan sekaligus menjadi langkah strategis memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi warga desa. Menurut saya jika hal ini dapat terealisasi dengan adanya lumbung ini, masyarakat dapat merasakan keamanan dalam pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus memiliki cadangan sumber daya yang dapat diakses saat kondisi mendesak. Upaya ini tidak hanya meningkatkan kemandirian desa, tetapi juga memperkuat solidaritas antarwarga.

Selain itu, pengembangan produk unggulan desa menuju pasar internasional membuka peluang baru bagi pelaku usaha lokal. Melalui pendampingan, peningkatan kualitas, dan perluasan jaringan pemasaran, produk-produk desa kini memiliki daya saing yang lebih tinggi. Langkah ini membuktikan bahwa desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga subjek penting yang mampu menghasilkan karya bernilai global. Pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal ini turut berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan penciptaan lapangan kerja.

Di sisi lain, penerapan Sistem Informasi Desa (SID) serta penguatan Tim Tanggap Bencana menjadi elemen penting dalam mewujudkan tata kelola desa yang modern, transparan, dan siap siaga. SID membantu pemerintah desa dalam mengelola data secara akurat dan cepat, sementara Tim Tanggap Bencana memastikan masyarakat terlindungi dari berbagai risiko alam. Sinergi antara teknologi, kesiapsiagaan, dan pemberdayaan masyarakat inilah yang membawa desa di Jawa Tengah menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya.

Pada akhirnya, revitalisasi ekonomi desa tidak boleh berhenti pada slogan "Desa Digital" semata, melainkan harus menyentuh transformasi fundamental pada basis data dan kelembagaan. Integrasi antara "Data Desa Presisi" yang akurat hingga level spasial dengan BUMDes yang profesional sebagai agregator rantai pasok adalah kunci untuk mengakhiri era "pembangunan semu" (pseudo-development) yang selama ini memicu kebijakan tidak tepat sasaran . Tanpa data yang valid, kebijakan hanyalah asumsi; dan tanpa BUMDes yang kuat, petani akan terus menjadi korban volatilitas pasar. Sinergi inilah yang akan mengubah desa dari sekadar objek bantuan menjadi subjek ekonomi yang berdaulat dan memiliki posisi tawar kuat dalam rantai pasok nasional .

Lebih jauh, keberhasilan transformasi ini bergantung sepenuhnya pada kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya. Dengan mencetak pemuda desa menjadi "Kreator Desa" dan pemasar digital yang kompeten, kita tidak hanya menjawab tantangan pengangguran terbuka pemuda yang mencapai 13,41%, tetapi juga memotong arus urbanisasi. Ketika anak muda desa mampu menghasilkan nilai ekonomi global dari kampung halamannya melalui kompetensi digital , kita sedang membangun masa depan Indonesia yang sesungguhnya: desa yang datanya presisi, bisnisnya modern, dan pemudanya berdaya di tanah kelahirannya sendiri.

Artikel ini ditulis oleh Eko Pujiatmoko, S.E., M.Ak. (Dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Karanganyar 

Sentimen: neutral (0%)