Sentimen
Undefined (0%)
3 Des 2025 : 09.38
Informasi Tambahan

Brand/Merek: Toyota

Kab/Kota: Ponorogo, Solo

Kasus: Narkoba

Akhir Pelarian “Ratu Sabu Rp5 Triliun" Dewi Astutik

3 Des 2025 : 09.38 Views 4

Espos.id Espos.id Jenis Media: News

Akhir Pelarian “Ratu Sabu Rp5 Triliun" Dewi Astutik

Esposin, SOLO-Sudah sejak 2024, nama Dewi Astutik masuk daftar buronan internasional. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh utama di balik penyelundupan sabu besar: dua ton narkoba yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 5 triliun pada pertengahan tahun 2025. 

Namun, meski namanya menjadi Red Notice dari Interpol dan menjadi target utama penegak hukum, Dewi berhasil mengelabui aparat dengan cara berpindah-pindah negara dan kerap mengubah penampilannya. 

Dihimpun dari berbagai sumber, menurut pengakuan staf di kampung halamannya di Ponorogo, gaya rambut dan tampilan Dewi sering berganti. Sejak rambut pendek, lalu kadang tumbuh panjang, kadang berseragam, semua dilakukannya untuk menyulitkan identifikasi. 

Karena tingkah larinya itu, penangkapan pun memakan waktu lama hingga akhirnya pada 17 November 2025, informasi intelijen menetapkan keberadaan Dewi di Phnom Penh, Kamboja. 

Perburuan yang kemudian melibatkan koordinasi antara Badan Narkotika Nasional (BNN), Interpol, badan intelijen Kamboja, dan dukungan diplomatik dari KBRI Phnom Penh, akhirnya menutup ruang gerak Dewi. 

Operasi Penangkapan 

Pukul 13.39 waktu setempat pada 1 Desember 2025, tim gabungan menyerbu sebuah hotel di Sihanoukville. Dewi terciduk sedang bersama seorang pria, di dalam kendaraan Toyota Prius putih. Petugas langsung membekuk tanpa perlawanan. 

Foto-foto penangkapan menunjukkan Dewi mengenakan kaus putih dan celana panjang biru dongker, dengan rambut pendek dan berkacamata  jauh dari bayangan bandar narkoba besar. Tangan terborgol, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses administrasi, sebelum dipulangkan ke Indonesia. 

Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto, memimpin langsung penjemputan. Penangkapan Dewi bukan sekadar keberhasilan domestik melainkan kemenangan diplomasi dan kolaborasi internasional antara Indonesia, Kamboja, dan lembaga penegakan hukum lintas negara. 

Profil Dewi Astutik

Di balik status buron dan jaringan narkoba global, Dewi pernah menampakkan diri sebagai warga biasa: sempat bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di beberapa negara Asia, tinggal di Dusun Sumber Agung (Ponorogo) sejak 2009 setelah menikah, lalu sempat kembali ke rumah sebelum menghilang dengan iming-iming bekerja kembali ke luar negeri. 

Tetangga sempat mendengar kabar bahwa Dewi pamit kerja ke Kamboja usai Lebaran 2023. Alasannya sederhana: tidak ada pekerjaan tetap di rumah. Namun di balik itu, ada jejak jaringan narkoba internasional yang panjang yang kemudian terbongkar oleh BNN. 

BNN menyebut Dewi bukan sekadar kurir kecil. Dia adalah pengendali jalur narkoba, diduga sebagai rekrutor jaringan internasional yang menjangkau Asia–Afrika. Dewi bahkan menjadi salah satu WNI yang mendominasi kawasan Golden Triangle atau jaringan narkoba global, sama seperti Fredy Pratama yang juga merupakan buron sejak 2014.

8 Juta Jiwa Terselamatkan 

Penangkapan Dewi Astutik tidak hanya memupus pelarian seorang buron ia menjadi pukulan bagi jaringan narkoba internasional. BNN mengklaim bahwa pengungkapan ini berhasil mengamankan 2 ton sabu dari peredaran, yang berarti menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari potensi kerusakan akibat narkoba. 

Lebih dari itu, kasus ini menggarisbawahi bahwa perang melawan narkoba bukan hanya soal polisi menangkap pengguna atau kurir. Dibutuhkan kerja sama intelijen, diplomasi, dan koordinasi internasional, terutama ketika pelaku jaringan bergerak melintasi perbatasan. Kolaborasi BNN, Interpol, otoritas Kamboja, dan diplomasi melalui KBRI menjadi kunci keberhasilan. 

Sosok seperti Dewi juga menjadi peringatan: sindikat narkoba bisa memanfaatkan kesulitan ekonomi, mobilitas tenaga kerja, dan penampakan normal untuk bersembunyi dan beroperasi. Itu sebabnya, pencegahan dan pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan razia, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap mekanisme sindikat, serta edukasi masyarakat.

Sentimen: neutral (0%)