Sentimen
Informasi Tambahan
BUMN: BTN
Kab/Kota: Solo
Partai Terkait
Tokoh Terkait
Perbankan Siap Dukung Industri Mebel Soloraya dengan Berbagai Layanan
Espos.id
Jenis Media: Ekonomi

Esposin, SOLO - Talkshow Solusi Finansial UMKM Mebel Solo yang digelar Jumat (29/8/2025), menjadi ajang menggali informasi terkait upaya pengembangan bisnis mebel dari sisi finansial. Acara tersebut merupakan bagian rangkaian dari Sri Kayu Furni Fest 2025.
Acara tersebut juga menjadi kesempatan para pelaku mebel di Solo dan sekitarnya untuk menanyakan mengenai hal-hal terkait perbankan maupun tips dalam merambah pasar ekspor.
Acara tersebut menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya dari Bank Indonesia (BI), BTN, BCA, serta dari pelaku usaha.
Salah satu yang dipertanyakan dari pelaku usaha peserta talkshow yakni mengenai penyakuran KUR hingga solusi ketika pelaku usaha sudah pernah mendapatkan KUR Rp500 juta namun kembali membutuhkan pembiayaan.
Ada pula pertanyaan mengenai pembuatan rekening untuk kelompok atau lembaga seperti koperasi pelaku usaha. Tidak luput, kebijakan pemblokiran rekening dormant yang sempat hangat menjadi perbincangan, ternyata juga masih menjadi kekhawatiran pelaku usaha.
Menjawab pertanyaan tersebut, Kepala Cabang BCA Singosaren, Mathias Yogi, menyampaikan untuk penyaluran KUR, berdasarkan ketentuan yang ada, setiap NIK hanya bisa mendapat penyaluran KUR maksimal Rp500 juta.
"Kalau dari ketentuan BI itu kan maksimal KUR itu per NIK itu Rp500 juta," kata dia.
Namun ketika seseorang pernah mendapatkan KUR misalnya di suatu bank Rp200 juta, maka ketika mengajukan lagi di bank lain, masih bisa maksimal Rp300 juta. Dengan begitu totalnya Rp500 juta.
Ketika batas maksimal tersebut sudah terpenuhi, maka pelaku usaha bisa tetap mengakses pembiayaan namun jenis pembiayaan reguler.
"Kami ada banyak [untuk pembiayaan reguler]. Kami ada beberapa produk alternatif. Biasanya di beberapa bank juga punya," kata dia.
Mengenai pembuatan rekening untuk koperasi, menurutnya hal itu bisa dilakukan. BCA dapat memfasilitasi pembukaan rekening koperasi ketika semua persyaratan terpenuhi. Misalnya akta pembukaan, ide titas para pengurus dan sebagainya.
Sementara mengenai pemblokiran rekening dormant, kini masyarakat tidak perlu khawatir karena hal itu dapat ditangani atau dapat diaktifkan lagi ketika pemilik rekening melakukan konfirmasi ke bank.
Branch Manager BTN Solo, Anita Septi Purwarini. Bahwa saat ini untuk masalah pemblokiran sudah bisa dibuka kembali. "Jadi masyarakat jangan cemas," kata dia.
Kemudian mengenai KUR, ketika nominal total yang telah diterima sudah mencapai Rp500 juta, masyarakat masih dapat mengajukan pembiayaan yang lain. Misalnya saja di BTN ada produk kredit dengan agunan rumah.
"Kami bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, kami memiliki rate yang cukup kompetitif 3% di atas 7 Days Reverse Repo Rate [bunga acuan]," jelasnya.
Dia juga menjelaskan meski BTN mungkin lebih dikenal dalam penyaluran kredit rumah, namun bank tersebut juga memiliki program untuk pemberdayaan UMKM. Ada 3 fase peran BTN dalam pemberdayaan UMKM tersebut, yakni fase inisiasi yang mencakup edukasi dan literasi termasuk mengenai pemahaman pentingnya pengelolaan keuangan dalam usaha.
Selanjutnya ada fase akselerasi yang mencakup pengembangan usaha serta fase scale up yang mencakup kolaborasi. Untuk program pemberdayaan juga ada 3, yakni UMKM Pintar, UMKM Modern dan UMKM Berkarya.
"Kalau ada yang mau mengembangkan usahanya, mungkin sekarang masih kecil terus ingin ditingkatkan lagi, tapi bingung gimana. Nah, kalau sudah punya rekening BTN dan mungkin ada KUR di BTN dan nanti ke depannya ingin diajari oleh digital marketing consultant kami, juga bisa," jelasnya.
Sistem Pembayaran
Talkshow juga menjadi ajang diskusi mengenai sistem pembayaran untuk kebutuhan ekspor produk dari dalam negeri. Sebab ternyata peserta yang merupakan kalangan pelaku usaha mebel, juga sering mendapatkan buyer yang menginginkan pembayarannya dengan sistem LC atau Letter of Credit. Dalam hal ini pelaku usaha juga berharap dari kalangan perbankan memiliki program untuk mendukung operasional pelaku usaha.
Di sisi lain sistem pembayaran QRIS juga dinilai menjadi salah satu solusi dalam transaksi di dalam negeri. Untuk itu workshop juga menjadi wadah untuk menggali informasi mengenai QRIS. Termasuk mengenai aturan biaya yang dibebankan ke nasabah saat ada transaksi melalui QRIS.
Pada acara tersebut, selain mengenai QRIS, Asisten Manajer Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran KPW Bank Indonesia Solo, Irfin Handiliastawan, juga memberikan gambaran mengenai pertumbuhan ekonomi serta perkembangan kredit di Soloraya.
Dari kalangan pelaku usaha, CEO CV Raya Permata Sentosa (Furniparc), Rani Permata Sari, menyampaikan masih potensialnya bisnis mebel maupun craft saat ini.
Termasuk untuk merambah pasar ekspor. Bahkan menurutnya saat ini ekspor ke Amerika Serikat juga masih stabil. Hanya memang butuh strategi untuk bisa memberikan produk dengan harga yang kompetitif. "Kita sebagai pengusaha ada baiknya juga melakukan riset data harga di sana [tujuan ekspor]," kata dia.
Sementara itu, Kepala UPTD Pengelolaan Sentra IKM, Sri Hening Widyastuti, menyampaikan tujuan dari kegiatan tersebut memang untuk edukasi dan membuka wawasan para pelaku usaha, khusunya terkait perbankan dan finansial pada umumnya.
"Harapannya memang melalui acara ini para pelaku usaha atau peserta talkshow bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya," kata dia.
Sentimen: neutral (0%)