Sentimen
Undefined (0%)
27 Agu 2025 : 22.37
Informasi Tambahan

Hewan: Sapi

Kab/Kota: New Delhi, Washington

Kasus: pengangguran

Gara-gara Beli Minyak Rusia, India Dikenai Bea Masuk AS 50%

27 Agu 2025 : 22.37 Views 13

Espos.id Espos.id Jenis Media: Dunia

Gara-gara Beli Minyak Rusia, India Dikenai Bea Masuk AS 50%

Espos.id, NEW DELHI - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menggandakan bea masuk barang impor asal India menjadi 50% yang mulai berlaku pada hari Rabu (27/8/2025). Hal ini dilakukannya untuk menghukum New Delhi karena membeli minyak Rusia dengan harga diskon.

Adanya kenaikan tarif ini menimbulkan kerugian yang signifikan bagi perekonomian India karena mengancam stabilitas perdagangan dengan AS yang selama ini merupakan pasar ekspor terbesarnya. Pada 2024, India telah mengekspor barang senilai lebih dari US$87 miliar ke AS.

Seperti dilaporkan Aljazeera yang mengutip sejumlah media internasional, pemerintah India mengkritik langkah tersebut sebagai tindakan yang tidak adil dan tidak berdasar. Kenaikan tarif tersebut akan berdampak pada ekspor senilai lebih dari US$48 miliar. Para pejabat India juga memperingatkan, bahwa tarif baru tersebut dapat mengakibatkan ekspor barang dari India ke AS menjadi tidak layak secara komersial, yang mengakibatkan hilangnya lapangan pekerjaan dan perlambatan pertumbuhan di India.

Sebelumnya, AS telah mengenakan tarif sebesar 25% pada barang-barang India di awal bulan ini. Hal tersebut merupakan bagian dari kebijakan lebih luas dari Presiden Trump, yaitu menambahkan bea masuk pada barang-barang dari negara sekutu maupun pesaing. Kebijakan ini muncul sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden dan kembali ke Gedung Putih.

Namun, kenaikan tarif impor ke India dilakukan oleh AS sebagai langkah untuk menghukum New Delhi karena membeli minyak Rusia, yang menurutnya secara tidak langsung mendanai perang Rusia di Ukraina.

Pada tahun lalu, lebih dari sepertiga impor minyak mentah India berasal dari Rusia. Hubungan dagang tersebut yang telah memicu kritik dari Washington. Penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, mengatakan kepada para wartawan pekan lalu bahwa India tampaknya tidak mau mengakui perannya dalam perang di Ukraina.

Langkah tersebut membuat para eksportir India harus menghadapi tarif tertinggi dibandingkan tarif lain yang pernah diberlakukan Trump terhadap barang impor dari luar negeri. 

Wakil Presiden Eksekutif dan Ekonom di Elara Securities, Garima Kapoor, mengatakan bahwa dampak kenaikan tarif ini kemungkinan akan terasa dalam industri padat karya seperti tekstil, pakaian, permata dan perhiasan, ekspor maritim, beberapa ekspor otomotif, dan kulit.

"Semua kategori ini, seperti padat karya skala kecil dan menengah. Jadi, kita akan melihat dampak yang cukup parah dalam hal ketenagakerjaan," ujar Garima.

Sebuah lembaga kajian yang berbasis di New Delhi, Global Trade Research Initiative (GTRI), mengatakan tarif tersebut dapat menghilangkan kehadiran India di AS.

"Rezim tarif baru ini merupakan guncangan strategis yang mengancam akan menghapus kehadiran India yang telah lama berdiri di AS, menyebabkan pengangguran di pusat-pusat ekspor, dan melemahkan perannya dalam rantai nilai industri," ujar pendiri GTRI dan mantan pejabat perdagangan India, Ajay Srivastava.

Untuk saat ini, AS telah membebaskan beberapa sektor utama, seperti obat-obatan dan barang elektronik dari tarif tambahan. Pemerintahan Trump juga sedang melakukan penyelidikan terhadap sektor-sektor tersebut dan sektor-sektor lainnya, yang memungkinkan kenaikan tarif apabila hasil penyelidikan menemukan alasan yang cukup.

Kebijakan tarif ini muncul di tengah penolakan India terhadap desakan Amerika Serikat yang ingin membuka akses lebih luas bagi impor produk pertanian dan susu murah dari AS.

Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan bahwa India tidak boleh menyerah pada tekanan tersebut. "Bagi saya, kepentingan petani, usaha kecil, dan peternakan sapi perah adalah yang terpenting. Pemerintah saya akan memastikan mereka tidak terdampak," kata Modi dalam sebuah rapat umum pekan ini di Gujarat.

Sentimen: neutral (0%)