Keren! Siswa SLB Alamanda Solo Luncurkan 2 Buku dan Pamerkan 45 Lukisan
Espos.id
Jenis Media: Solopos

Esposin, SOLO -- Siswa Sekolah Luar Biasa atau SLB Alamanda Solo meluncurkan dua buku dan membuat pameran karya di Galeri Kecil Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo, Senin (25/8/2025). Peluncuran buku ini juga dibarengi pameran 45 karya lukis siswa lainnya.
Buku pertama yakni karya siswa SLB Alamanda, Fatsun Raaid Wicaksono, yang berjudul Cerita Istimewa. Di buku itu, Fatsun bercerita tentang kehidupan yang ia jalani. Mulai dari cerita tentang keluarga, sekolah, kunjungannya ke kebun binatang, pantai, hingga hobinya.
Bukunya juga dilengkapi ilustrasi yang ia gambar sendiri. Ketika mempresentasikan buku itu, Fatsun mengatakan cerita favoritnya adalah tentang hobi mengoleksi mainan. “Fatsun suka mengoleksi mainan yang disimpan di almari,” katanya.
Sama halnya dengan Fatsun, siswa SLB Alamanda lain yang kini bersekolah di SLBN Solo, Zona Banyu Aleksa, juga membuat buku serupa. Ia menulis buku dengan judul Perjalanan Zona.
Zona mampu menceritakan rangkaian kegiatan secara utuh dalam satu hari. Ia menggambar dan menuliskan kegiatannya dari bangun tidur hingga kembali terlelap. “Ini buku yang saya tulis bercerita tentang kegiatanku pada hari Kamis,” kata Zona ketika mempresentasikan bukunya dalam acara peluncuran di TBJT Solo, Senin.
Zona menulis dan mengilustrasikan perjalanan dari mulai bangun pagi pukul 05.00 WIB hingga tidur. Termasuk ketika dirinya diantar ibunya ke sekolah, bertemu teman-teman, belajar menyulam, dan pergi piknik bersama teman.
Project Leader acara yang juga Guru SLB Alamanda, Solo, Wilis Palupi, menjelaskan kedua buku tersebut tidak tiba-tiba terbit, melainkan melalui proses pembelajaran yang panjang di kelas. Ia mengatakan butuh waktu hingga dua tahun sampai kedua buku itu terbit.
Pembelajar Visual
Menurutnya, anak dengan autisme merupakan pembelajar visual (visual learner) yang menyerap informasi dan berekspresi secara unik, terutama melalui gambar. “Gambar bagi anak-anak ini sebenarnya adalah salah satu media pembelajaran dan komunikasi kami,” kata Wilis ketika ditemui Espos selepas acara di TBJT Solo, Senin.
Ia mencontohkan media gambar seringkali menjadi jembatan untuk memahami perasaan siswa yang sulit diungkapkan secara verbal. Ini berangkat dari pengalamannya mengajar. Suatu ketika, seorang siswa mengalami tantrum dan sulit ditenangkan.
Wilis kemudian memintanya untuk menggambar. Dari gambar tersebut, terungkap ternyata siswa itu kesal karena tidak dipinjami mainan lato-lato oleh adiknya. Anak tersebut bahkan menggambar detail dengan visual yang mudah dipahami.
“Situasi seperti ini sulit disampaikan secara verbal karena keterbatasan komunikasi mereka. Media gambar inilah yang menjembatani kami untuk tahu apa yang sedang dia rasakan,” tambahnya.
Selama proses pembuatan karya, Wilis sebagai pendamping ingin mempertahankan autentisitas karya anak-anak, termasuk tulisan tangan asli mereka. Ia sadar jika dirinya banyak intervensi selama proses membuat karya, esensi belajar itu akan buyar.
Maka ia membiarkan anak berproses mulai dari membuat cerita di buku harian, merevisi tulisannya sendiri seiring dengan kemajuan belajar mereka, hingga menuangkannya dalam gambar. “Saya ingin buku ini benar-benar hasil dari anak-anak yang bertumbuh. Bukan ego saya yang mengoreksi tulisannya lalu selesai,” tegas Wilis.
Melalui peluncuran buku dan pameran ini, Wilis Palupi berharap masyarakat dapat lebih memahami dan memberikan ruang bagi anak-anak dengan autisme. Ia berharap publik dapat bersikap lebih bijaksana ketika bertemu dengan anak berkebutuhan khusus di tempat umum, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan inklusif bagi mereka.
Dukungan Keluarga
Keberhasilan para siswa SLB Alamanda Solo membuahkan karya tidak saja karena ketekunan guru. Namun juga dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Salah satu perwakilan orang tua, Kucisti Ike Retnaningtyas Suryo Putro, yang merupakan ibunda dari Fatsun, bercerita putranya sempat didiagnosis dokter tidak akan bisa berbicara atau berkomunikasi secara verbal.
“Kemampuan komunikasi verbal dan dua arahnya masih sangat terbatas. Namun dengan cinta, kerja sama yang luar biasa dari keluarga, lingkungan, dan tentunya SLB Alamanda yang penuh cinta, hari ini Bapak dan Ibu bisa melihat bagaimana cinta telah mengubah apa yang dinyatakan oleh dokter,” ujarnya.
Ia menegaskan kondisi autisme dari anak bukanlah halangan untuk berprestasi. Menurutnya, prestasi bagi anak berkebutuhan khusus memiliki makna yang berbeda. Kemampuan untuk makan sendiri, memakai kaus kaki sendiri, adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan.
"Mereka hanya butuh cinta, mereka hanya butuh diakui, mereka hanya butuh diberi apresiasi dan ruang untuk belajar, sama seperti kita," katanya.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah, Edi Purwanto, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengatakan pameran karya tersebut membuktikan siswa SLB, seperti orang pada umumnya, bisa berkarya.
“Ini terus terang bagi kami menjadi inspirasi yang luar biasa. Kami sangat bahagia, senang, dan bangga. Ini menjadi salah satu bukti bahwa anak-anak kita yang ada di sekolah luar biasa penuh dengan talenta dan prestasi,” kata Edi.
Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif dan menginspirasi SLB lainnya untuk terus berinovasi dalam memberikan pelayanan pendidikan. Menurutnya, potensi yang dimiliki para siswa SLB merupakan aset berharga yang dapat berkontribusi di masyarakat.
Sentimen: neutral (0%)