Sentimen
Informasi Tambahan
Agama: Kristen
Event: Ramadhan
Kab/Kota: Salatiga
Partai Terkait
Tokoh Terkait
Kontribusi UKSW, Mahasiswa Fiskom Bikin Logo Yayasan Rumah Harapan Sejahtera PMI
Espos.id
Jenis Media: News

Esposin, SALATIGA - Setiap karya mahasiswa, menurut Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Sampoerno, S.Pd., M.Si., tidak seharusnya berhenti pada teori semata. Lebih dari itu, karya tersebut dituntut memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Prinsip inilah yang ditegaskan Sampoerno, sekaligus pengampu mata kuliah Riset Periklanan, saat berbicara mengenai kiprah mahasiswanya.
“Kami ingin memastikan setiap karya mahasiswa bertransformasi menjadi kontribusi publik. Melalui kolaborasi ini, mereka belajar menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Karya yang dimaksud terwujud dalam bentuk logo dan nama Yayasan Rumah Harapan Sejahtera, lembaga baru di bawah naungan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Salatiga yang resmi berdiri pada Juli 2025. Dari ruang kelas menuju ruang pengabdian, ide kreatif mahasiswa Fiskom UKSW kini menjelma menjadi identitas visual yang sah digunakan PMI dalam kiprah kemanusiaannya.
Dari 12 tim mahasiswa yang berkompetisi, tiga di antaranya berhasil menyabet juara 1 hingga 3. Tidak hanya menerima sertifikat dan uang pembinaan, tim pemenang utama meraih kehormatan lebih besar yaitu karyanya ditetapkan sebagai identitas resmi yayasan. Momen bersejarah itu ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan di kantor PMI Kota Salatiga, Jumat (15/08/2025).
Natalia Selviana Putri, bersama rekan-rekannya Meira Manuela, Jehuda David Lemuel, dan Louis Ramadhan Putra, tampil sebagai tim juara pertama yang karyanya dipilih menjadi identitas resmi yayasan. Natalia menjelaskan bahwa logo yang terpilih sarat akan filosofi.
“Atap rumah menyerupai panah ke atas melambangkan harapan dan kemajuan, bunga matahari merepresentasikan optimisme dan prinsip kemanusiaan PMI, padi dan kapas mencerminkan kesejahteraan yang seimbang, sementara tangan menengadah menegaskan keterbukaan dalam pengabdian. Seluruhnya dipertegas dengan tagline Berubah, Berkarya, untuk Kita,” jelasnya dalam rilis.
Bagi Natalia, keberhasilan ini menjadi pengalaman berharga yang sulit dilupakan. Ia menyebut bahwa semangat mereka semakin besar ketika mengetahui karya tersebut akan digunakan sebagai identitas resmi. “Awalnya hanya tugas kuliah, tetapi saat logo kami benar-benar menjadi wajah sebuah yayasan, rasanya bangga sekali. Ini membuktikan bahwa karya mahasiswa bisa berdampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Perkuat Pelayanan
PMI Kota Salatiga sendiri menilai hadirnya yayasan baru ini sebagai langkah penting dalam memperkuat pelayanan. Dewan Pembina Yayasan Rumah Harapan Sejahtera, Drs. Muthoin, M.Si., menuturkan bahwa PMI selama ini menghadapi keterbatasan relawan dan pendanaan. Karena itu, keberadaan yayasan sekaligus dukungan UKSW dianggap sebagai energi baru.
“Syukurlah, melalui kolaborasi ini lahirlah Rumah Harapan Sejahtera, yang kini sah menjadi nama yayasan dan sudah terdaftar di Kemenkumham (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia-red),” ujarnya penuh optimisme.
Tak hanya tim Natalia Selviana Putri bersama Meira Manuela, Jehuda David Lemuel, dan Louis Ramadhan Putra yang menyita perhatian, dua kelompok lain yakni Makarti Rahayu dan Asa Gemilang juga berhasil menorehkan prestasi sebagai juara 2 dan 3.
Kolaborasi UKSW dan PMI sejatinya telah berjalan lama, dari kegiatan donor darah rutin hingga dukungan publikasi. Bahkan, mulai September mendatang, PMI membuka kesempatan magang bagi mahasiswa UKSW untuk mengelola media sosial dan konten edukasi kebencanaan.
Komitmen Pengabdian kepada Masyarakat
Penyerahan penghargaan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus yayasan, antara lain Dewan Pengawas Siti Zuraidah, SKM., M.Kes., Siti Muawanah, M.Pd., Dewan Pembina Latif Nahari, ST., dr. Prasit Al Hakim, serta sejumlah tokoh PMI Kota Salatiga lainnya.
Kolaborasi UKSW dan PMI dalam lahirnya Yayasan Rumah Harapan Sejahtera tidak hanya menegaskan komitmen kampus dalam pengabdian masyarakat, tetapi juga selaras dengan Asta Cita UKSW poin 6 tentang kepedulian sosial dan kemanusiaan, serta mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Dengan demikian, karya mahasiswa ini menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan bersama.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 32 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (NA)
Sentimen: neutral (0%)