Sentimen
Undefined (0%)
21 Agu 2025 : 20.50
Informasi Tambahan

Hewan: Sapi

Kab/Kota: Madura, Solo

Partai Terkait

Angkat Cerita Tradisi Karapan Sapi, Seniman asal Madura Gelar Pameran di Solo

21 Agu 2025 : 20.50 Views 14

Espos.id Espos.id Jenis Media: Solopos

Angkat Cerita Tradisi Karapan Sapi, Seniman asal Madura Gelar Pameran di Solo

Esposin, SOLO — Seniman asal Madura, Anas Khoir Amar, menggelar pameran tunggal bertajuk Cultural Identity di Solo is Solo Space, Jl Gatot Subroto No 46, Kemlayan, Kecamatan Serengan, Solo, Rabu-Jumat (20-22/8/2025). Dalam pameran tersebut, Anas bercerita tentang Kerrabhân Sapè atau Karapan Sapi.

Anas tumbuh dan besar di Madura. Pengalaman ini yang ia coba eksplorasi dalam bentuk karya seni. "Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan budaya Madura, saya membawa kenangan dan nilai-nilai lokal ke dalam setiap proses kreatif saya," kata Anas kepada Espos, Kamis (21/8/2025).

Anas tumbuh sebagai anak-anak dengan melihat Karapan Sapi di kampungnya. Perasaan menonton tradisi itu mendorongnya untuk membuat karya. "Salah satunya adalah tradisi Karapan Sapi, yang sejak kecil saya kenal sebagai perayaan, tontonan, sekaligus kebanggaan masyarakat, menjadi titik tolak saya dalam berkarya. Lewat penciptaan karya ini, saya ingin lebih dari sekadar mengabadikan momen atau bentuk,” katanya.

Baginya, Karapan Sapi bukan hanya tentang sepasang sapi yang berlari cepat. Tapi tentang kerja sama, ketangguhan, semangat juang, dan juga harga diri. “Semua itu saya tangkap melalui pendekatan artistik yang tidak literal," jelasnya. 

Proses ini ia wujudkan dengan menyederhanakan bentuk, memainkan komposisi garis dan bidang, serta mengeksplorasi tekstur dan warna untuk melahirkan karya yang lebih jujur.

Keunikan pameran ini terletak pada pilihan media nonkonvensional yang digunakan Anas. Ia tidak menggunakan kanvas dan cat. Namun ia memilih objek-objek yang memiliki keterhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat Madura. 

Material yang ia pilih seperti gorden bekas, potongan kayu, pengonong (penutup kepala) sapi, hingga bilah pisau daging, dirangkai menggunakan teknik linear, kolase, dan assembling.

"Saya percaya bahwa medium bukan sekadar alat, tapi juga makna. Setiap bahan membawa ceritanya sendiri, dan ketika disatukan, mereka membentuk lapisan-lapisan narasi yang merekam memori kolektif dan dinamika sosial hari ini," katanya.

Ia ingin karya-karyanya menjadi titik temu antara masa lalu dan hari ini, antara yang lokal dan kontemporer. "Semoga dari karya-karya ini, penonton tidak hanya melihat warna dan bentuk, tapi juga merasakan energi, semangat, dan cinta saya terhadap budaya Madura," katanya.

Kurator Pameran yang juga dosen ISI Solo, Aries BM, mengatakan setiap material yang dipilih dalam penciptaan karya tersebut punya alasan yang kuat. Sehingga tidak tiba-tiba ada begitu saja. 

"Setiap material dipilih karena kedekatannya dengan tradisi yang diangkat, menciptakan hubungan langsung antara objek fisik dan nilai simbolik. Besutan material bukan hanya perangkai visual, melainkan narator yang menyimpan sejarah, afeksi dan sensibilitas,” katanya.

Total terdapat lima karya utama dalam pameran ini yang berjudul Lèbur, Simbiosis, Sapè Buru, Prestige, dan Akhir Perjalanan. Menurut Aries, semuanya menawarkan sudut pandang yang berbeda.

Aries menjelaskan kelima karya ini merepresentasikan berbagai fragmen dari tradisi Karapan Sapi. Mulai dari riuhnya pesta rakyat, harmoni kerja sama antara joki dan sapi, ketatnya kompetisi, prestise yang membanggakan, hingga perenungan mendalam tentang siklus kehidupan.

Aries memandang pameran ini sebagai ruang di mana tradisi tidak hanya dikenang, tetapi diberi kesempatan untuk berinovasi. Ia melihat Anas berhasil menjadi jembatan antara warisan tradisi masa lalu dan inovasi di masa kini.

"Anas tidak hanya mengajak kita melihat Karapan Sapi, tetapi juga memikirkan ulang bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara komunitas lokal dan wacana global,” katanya.

Selain itu, menurutnya, pameran ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk aslinya, melainkan juga memberi ruang bagi interpretasi baru yang membuatnya tetap relevan di masa sekarang.

Sentimen: neutral (0%)