Sentimen
Informasi Tambahan
Kab/Kota: Banyuwangi, Cirebon, Demak, Solo, Surabaya, Yogyakarta
Kasus: covid-19
Kisah Pedagang Kapal Otok-Otok, 25 Tahun Tak Pernah Absen Ramaikan Sekaten Solo
Espos.id
Jenis Media: Solopos

Esposin, SOLO -- Suara otok-otok dari kapal mainan yang terbuat dari kaleng itu masih terdengar nyaring di sudut Pasar Malam Sekaten tepatnya sisi barat Alun-alun Utara Keraton Solo, Senin (11/8/2025) malam. Di balik meja besi yang berisi puluhan kapal otok-otok berwarna-warni itu, Roni, 69, tampak sibuk merapikan dagangannya sembari menunggu pembeli datang.
Pria asal Cirebon ini sudah lebih dari 25 tahun berjualan mainan tersebut. Selama itu pula ia tidak pernah absen berjualan di pasar malam Sekaten Solo, kecuali saat pandemi Covid-19 ketika Sekaten vakum.
Bagi bapak dua anak itu, datang ke Sekaten Solo adalah sebuah ‘keharusan’ yang tidak boleh dilewatkan. Pasalnya di momen ini dia bisa meraup untung cukup besar untuk dibawa pulang ke kampung halamannya.
Sehari-hari, Roni juga berjualan kapal otok-otok di pasar tradisional tak jauh dari rumahnya. Namun saat ada perayaan hari-hari besar atau tradisi di sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Demak, Surabaya, dan Solo, dia memboyong dagangannya ke tempat tersebut.
Seperti pada Sekaten di kawasan Keraton Solo kali ini, ia membawa 1.000 kapal otok-otok untuk dijual selama satu bulan, mulai 9 Agustus-9 September 2025. Bersama satu orang anaknya, dia menyewa kamar indekos di sekitar Kauman, Pasar Kliwon, Solo.
Ia menganggap berjualan kapal otok-otok sudah menjadi garis hidupnya dan tak lagi berminat mengganti barang jualan. Dia mengaku senang ketika menjalani pekerjaan itu dan kebutuhannya tercukupi.
“Mungkin garis hidup saya memang jualan ini [kapal otok-otok]. Jadi tidak minat coba jualan lainnya. Sudah telanjur senang juga. Toh selama ini saya dan keluarga masih bisa hidup cukupanlah,” kata dia kepada Espos, Senin (11/8/2025) malam.
Ada Sejak Awal Kemerdekaan
Ia tidak memungkiri seiring berjalannya waktu dan ditambah banjirnya mainan modern, pamor kapal otok-otok di Sekaten Solo mulai meredup. Dia bercerita Sekaten tahun lalu banyak dagangannya yang tidak laku dan terpaksa dibawa pulang. “Kemarin saya bawa pulang lebih dari 200 unit kapal, padahal biasanya selalu habis,” ungkap dia.
Namun, ia tidak patah arang dan tetap optimistis kapal otok-otok tetap dicari pelanggan. Di tahun ini ia mencoba beradaptasi dan melakukan sedikit inovasi di barang jualannya dengan menambahkan layar kapal yang ia buat sendiri.
“Saya beli kapalnya ini kan bentuknya biasa saja sejak dulu. Agar bisa lebih menarik anak-anak, mainan ini saya tambahi sendiri ornamen layar warna warni. Sejauh ini lumayan bisa menarik pembeli,” ungkap dia.
Kapal yang ia modifikasi itu ia jual dengan harga Rp30.000. Sedangkan kapal lainnya ia jual dengan harga Rp25.000 untuk kapal ukuran besar dan Rp20.000 untuk kapal kecil. “Saya juga kasih bonus kapas dan minyak goreng. Sebelum dibawa pulang boleh dicoba dan saya kasih trik biar kapalnya bisa berjalan lama,” tambah dia.
Roni berharap mainan kapal otok-otok bisa terus eksis dan tidak punah karena tergerus mainan modern lainnya. Selain itu, dia juga berpesan kepada produsen kapal otok-otok untuk bisa lebih kreatif dalam membuat bentuk kapal agar masyarakat tidak bosan.
Sementara itu, Enrico Halim dalam bukunya berjudul Catatan Tentang Kapal Otok-Otok tahun 2023 menuliskan mainan ini sudah dimainkan anak-anak Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Waktu itu, kapal ini dimainkan di baskom berisi air dan disaksikan anak-anak secara beramai-ramai. Sejak dulu, mainan kapal otok-otok ini mudah dijumpai di acara Sekaten di Yogyakarta maupun di Solo
“Mainan kapal otok-otok adalah sebuah benda yang sudah sejak lama berada di kebudayaan populer Indonesia. Mainan ini adalah sebuah contoh komoditi yang memiliki nilai guna maupun estetika yang rendah, namun dekat dengan bangsa Indonesia. Mainan kapal otok-otok dapat dianggap sebuah kitsch–sesuatu yang ada hanya untuk memuaskan naluri kesenangan semata [hiburan],” tulis dia.
Sentimen: neutral (0%)