Bisakah Jakarta Ramah Lingkungan? - Koran-Jakarta.com

  • 18 Juni 2024 03:36:17
  • Views: 23

P

roblem umum kota besar adalah masalah lingkungan, termasuk kemacetan, kepadatan penduduk, sampah dan tentu saja polusi. Oleh karena itu banyak kota besar menjadi tidak ramah lingkungan. Bagaimana dengan Jakarta?

Beberapa hari belakangan ini Jakarta masuk ke dalam peringkat 50 besar kota dengan udara buruk di dunia. Ini mestinya menjadi keprihatinan bagi warga Jakarta untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan.

Indeks Kualitas Udara (AQI) pada Sabtu (15/6) misalnya, mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 106. Lalu tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 40,4 mikrogram per meter kubik atau 8,1 kali lebih tinggi nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Banyak faktor yang memengaruhi kualitas udara di Jakarta sehingga belum memperlihatkan kondisi membaik. Salah satunya adalah fenomena alam berupa arah angin dari timur yang membawa udara kering. Fenomena alam ini memang kerap terjadi pada bulan Juni hingga Agustus.

Baca Juga :

DKI Minta Calon Haji Terapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat Cegah MERS

Kemudian faktor lain yang tidak kalah penting dalam memberikan kontribusi pencemaran udara adalah emisi kendaraan bermotor dan bangunan gedung yang boros energi. Gedung yang boros energi (listrik) secara tidak langsung menyumbang emisi karena pembangkit di Indonesia masih berbahan bakar batubara (fosil).

Penyebab lain dari polusi udara di Jakarta adalah masih beroperasinya PLTU batubara.

Dengan demikian, apabila Jakarta ingin menjadi kota yang memiliki udara bersih maka tiga faktor penyebab ini secara bertahap harus dibenahi. Sebagai contoh untuk fenomena alam, maka langkah terbaik adalah dengan memperbaiki lingkungan yakni dengan memperbanyak pohon dan memperluas area hutan bakau (mangrove) di kawasan pesisir.

Lantas untuk menekan emisi kendaraan bermotor, Pemerintah Provinsi Jakarta harus segera memperbanyak jaringan transportasi publik. Ketersediaan transportasi publik ini harus mampu mengejar laju pertumbuhan penduduk terutama di daerah penyangga.

Seperti diketahui kepadatan lalu lintas yang kerap menghiasi pada jam kerja disebabkan pergerakan penduduk yang bertempat tinggal di Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) menuju Ibu Kota. Dengan kian banyaknya warga yang bekerja dan bersekolah di Jakarta, praktis perlu kebijakan di bidang transportasi agar persoalan kemacetan dapat diatasi.

Terakhir untuk bangunan gedung, Pemerintah Provinsi Jakarta harus gencar menyosialisasikan kepada pemilik untuk menerapkan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan sehingga tidak lagi "boros" dalam mengonsumsi energi.

Dari tiga solusi ini tentunya tidak semuanya menjadi tanggung jawab Pemprov Jakarta. Peran stakeholders (badan usaha, perguruan tinggi, tokoh masyarakat) menjadi sangat krusial untuk melakukan perubahan.

Akhir-akhir ini sudah banyak pihak yang ingin membantu Jakarta sebagai bentuk kepedulian untuk mengatasi kualitas udara. Seperti TNI dan Polri yang pernah berkolaborasi dengan pemerintah administrasi Jakarta untuk memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah untuk ditanam aneka tumbuhan termasuk pepohonan.

Baca Juga :

3.215 Kendaraan Bermotor di Jakarta Ditilang Karena Lawan Arah

Beberapa perusahaan juga ikut berkolaborasi dengan Pemprov untuk menghijaukan Jakarta. Beberapa bahkan peduli untuk ikut serta menghiasi Ruang Terbuka Hijau Ramah Anak (RPTRA) yang berada di sudut-sudut kota. Dalam upaya menanggulangi udara kotor pemerintah sendiri sudah memiliki pedoman yang tertuang di dalam UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Di dalam peraturan itu secara jelas mengatur soal sanksi tegas kepada pihak-pihak yang sudah berkontribusi terhadap pencemaran udara yang diukur memakai baku mutu emisi. Semoga berbagai langkah tersebut dapat menjadikan Jakarta lebih ramah lingkungan.


Redaktur : Aloysius Widiyatmaka

Penulis : Antara


Sumber: https://koran-jakarta.com/bisakah-jakarta-ramah-lingkungan?page=all
Tokoh

Graph

Extracted

ministries TNI,
ngos WHO,
topics haji, Listrik,
fasums RPTRA, RTH,
products batubara,
nations Indonesia,
places BANTEN, DKI Jakarta, JAWA BARAT,
cities Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang,
cases Kemacetan,